Detail Berita >>>
Memaknai Lulus
Teka teki terbesar di dalam benak para siswa SMA kelas XII sudah terjawab, yaitu pada pengumuman kelulusan hari Senin tanggal 26 April 2010. Menjelang hari pengumuman, berbagai ekspresi terlihat dari para siswa. Ada yang tenang, seperti tidak ada yang sedang ditunggu, ada yang selalu mengisi hari-harinya dengan selalu hadir di sekolah entah untuk kompensasi kegelisahan, atau sekedar untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan atau dengan para guru. Ada juga yang begitu stressnya menghadapi kelulusan sampai jatuh sakit. Sangat bertentangan dengan ketika mereka menempuh pendidikan di SMA selama hampir 3 tahun. Tidak banyak siswa yang menyikapi proses belajar dengan sepenuh hati. Jarang terlihat siswa yang “gemes” (= penasaran) dengan materi pelajaran tertentu. Siswa yang benar-benar dengan segala motivasi dan minat yang tinggi dengan segenap jiwa raga memperjuangkan pencapaian hasil belajar (=nilai) prosentasenya masih belum sesuai harapan. Sebagian besar masih karena paksaan dan tekanan. “Garing” , mungkin istilah yang dapat mewakili kondisi itu. Dengan dilandasi kesadarn bahwa tak sedetik pun (bahkan seper sekian detik pun) peristiwa di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, semua merupakan skenario Allah, semua merupakan rencana Tuhan, maka ”lulus” dan ”tidak lulus” akan mempunyai makna berbeda-beda, sesuai dengan hubungan si penyandang gelar ”lulus” dan ”tidak lulus” dengan Tuhan-nya. ”Lulus” mungkin merupakan berkah dan hadiah bagi para siswa yang memperjuangkannya selama hampir 3 tahun dengan kesungguhan, dengan cara-cara yang diridho Allah, dengan selalu menjaga kesadaran bahwa belajar adalah ibadahnya pelajar. Bagi siswa yang menempuh pendidikan dengan ”ala kadarnya” kata ”lulus” mungkin merupakan tanda kasih sayang Allah terhadap umat yang selalu berdoa, yaitu para wali murid, dan orang – orang yang peduli dengan siswa tersebut. Tetapi ”lulus” mungkin akan mempunyai arti godaan bagi siswa yang telah mencapainya dengan jalan yang tidak benar, dengan jalan tidak adil, dengan jalan yang tidak diridhoi Allah. Godaan yang begitu membahayakan, melenakan, dan mengancam kadar keimanan. ”Tidak lulus” mungkin merupakan ujian bagi para siswa yang dengan segenap jiwa raga dan dengan cara yang benar memperjuangkannya. Bagi siswa yang ”ala kadarnya” tidak lulus mungkin sebagai peringatan. Sedangkan siswa yang telah berusaha dengan cara-cara yang tidak baik, mungkin ”tidak lulus” merupakan tanda sayang Allah terhadap umatnya, agar mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, alias sebagai ujian keimanan dan ketaqwaan. Semuanya mengandung kata ”mungkin” , karena sesungguhnya jika belum benar-benar terjadi, maka seratus persen rahasia Allah. Manusia hanya bisa meng-kira-kira, mengambil persepsi sesuai dengan kadar hubungannya dengan Allah. Yang paling penting dari ini semua adalah bagaimana kita menyikapinya. Apakah akan berhenti hanya sampai pada peristiwa lulus dan tidak lulus, atau tetap menjaga kesadaran bahwa lulus dan tidak lulus hanya nol koma nol nol nol nol sekian persen dari seluruh perjalanan hidup. Masih banyak hal yang harus dilakukan, masih banyak hal yang harus dikejar, masih banyak hal yang ingin dicapai.



